Tanpa Helm dan Melawan Arus

Ilustrasi Pemotor Lawan Arus - detik.com
Ilustrasi Pemotor Lawan Arus - detik.com

Apa yang terjadi kalau banyak pengemudi menggunakan “jalur termudah” untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi? Yep! Kalian akan melihat banyak sekali pelanggaran receh yang mengganggu perjalanan kalian. Contohnya adalah melewati marka garis tidak putus, menggunakan ponsel, mendahului lewat bahu jalan, dan melanggar alat pemberi isyarat lalu lintas. Apakah saya puas memberi contoh hanya segitu? Tidak. Pelanggaran receh seperti ini sudah seperti budaya di jalan, terutama di kalangan pengguna roda dua. Sering saya harus mempertanyakan kepemilikan SIM seorang pemotor hanya karena dua pelanggaran: MELAWAN ARUS LALIN atau TIDAK PAKAI HELM, atau keduanya di saat bersamaan. Berantakan gak tuh kalau ketemu yang seperti itu?

Saya salut lho melihat keberanian orang bawa motor tidak menggunakan helm dan melawan arus lalu lintas. Pemotor yang seperti ini ibarat kucing: nyawanya sembilan! Oke sebelum lanjut mencak, mari kita jabarkan dulu masing-masing pelanggaran receh ini. Kita mulai dari helm; yang mana langsung menyangkut keamanan kepala kita. Dikutip dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 106 Ayat 8, pengendara sepeda motor dan penumpangnya WAJIB menggunakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai perlengkapan kendaraan bermotor.

Ayat dalam pasal ini tertulis cukup singkat, tetapi memiliki makna peringatan yang sangat besar. Saya tidak perlu mengulik studi ilmiah mengenai perbedaan antara menggunakan helm dan tidak menggunakan helm karena saya pernah merasakannya sendiri, in the hardest way possible. Waktu sebelum masuk asrama kampus kira-kira lima tahun yang lalu, saya mengalami kecelakaan sepeda motor pada kecepatan impak sekitar 50 kilometer per jam. Saya terjungkal cukup parah, mendarat di muka lebih dahulu, dan menyebabkan kolom stang motor saya tertekuk. Untung saya menggunakan helm standar SNI dan DOT saat itu. Kalau tidak, saya mungkin tidak menulis ini sekarang.

Yang paling krusial dan menggelitik dari masalah helm ini adalah alasan-alasan yang digunakan untuk membenarkan. “Ah deket ini.” “Gaada polisi brow, woles aja.” “Gapapa kak cuma ke belakang aja.” No! these are all dogshit! Oke kalau semisalnya kalian ketahuan tidak pakai helm, kalian dijatuhi entah hukuman satu bulan kurungan atau denda Rp 250,000; itu menurut UU No 22 Tahun 2009 Pasal 290. Cuma, serius nih? Hanya alasan dekat kalian rela mempertaruhkan nyawa? 

Bisa lebih parah? Oh bisa! Kalau kalian juga melawan arah.

Menemukan pemotor yang lawan arah adalah salah satu kejadian yang selalu membuat saya gemas banget. Apa yang ada di pikiran mereka sih, selain alasan “ah tanggung sedikit lagi” atau “muternya jauh cuy!” atau apapun lah alasannya? Melawan arah tidak tersurat di UU LLAJ, tetapi tertulis pada Pasal 106 Ayat 4:

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan:

 

  • rambu perintah atau rambu larangan;
  • Marka Jalan;
  • Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
  • gerakan Lalu Lintas;
  • berhenti dan Parkir;
  • peringatan dengan bunyi dan sinar;
  • kecepatan maksimal atau minimal; dan/atau
  • tata cara penggandengan dan penempelan dengan Kendaraan lain.

Semisal kalian ketahuan oleh aparat penegak hukum melawan arah, kalian bisa dijatuhi hukuman dua bulan kurungan atau denda Rp 500,000 karena melanggar aturan perintah atau larangan rambu lalu lintas, sesuai yang tertulis pada Pasal 287 Ayat 1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009. Hanya saja begini, bayangkan apa yang terjadi ketika kalian lawan arah, di depan kalian ada mobil tidak terkendali mengarah langsung ke kalian dan menabrak kalian. Secara instan, kalian menjadi subjek hukum gerakan Newton pertama dan kedua. Gak bisa “damai” kalian dengan hukum fisika lho.

Jadi tolong ya guys, saya mohon dengan sangat untuk kalian tidak lagi lupa menggunakan helm dan tidak lagi melawan arah. Katakan pada diri kalian “naik motor jangan lupa pakai helm dan jangan melawan arah karena kecelakaan bisa terjadi sewaktu-waktu.” Kalau yang lain lawan arus, tolong jangan ikut-ikutan. Tindakan membahayakan nyawa tidak bisa dibenarkan karena kalian ngikut orang. Remember! Safety comes first and it starts from all of us.

 

From AutoVerso Media Instagram

Written by Rayhan Haikal (@txtdarierha)

Editorial: The AutoVerso Team

Source: UU No. 22 Tahun 2009, hukumonline.com, kompas.com, republika.co.id, kompas.com

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5bcdd167c3710/nekat-melawan-arus-ingat-nyawa-dan-sanksi-ini/

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt57fd9537b79ad/pidana-bagi-sepeda-motor-yang-melawan-arus/ 

https://otomotif.kompas.com/read/2019/10/30/124200715/ingat-lagi-sanksi-melawan-arah-bisa-kena-denda-rp-500.000

https://republika.co.id/berita/nasional/umum/16/12/08/ohvezw335-peneliti-empat-alasan-pengendara-motor-tak-gunakan-helm

https://sains.kompas.com/read/2017/01/26/204401023/dampak.benturan.keras.pada.kepala

Office:

Jl. Kedoya Raya No. 3, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta Indonesia 11520

Phone : +62 817 007 3836

Email : contact.autoverso@gmail.com