Toyota Kijang

Toyota Kijang - seva.id
Toyota Kijang - seva.id

Oke saya harus akui kalau tulisan yang kalian baca di caption itu terlalu lebay. Petrolheads di Indonesia tersebar di berbagai fanbase dan setiap fanbase memiliki mobil ‘panutannya’ masing-masing. Namun saya masih bertahan dengan kecintaan saya dengan Kijang sebelum Innova. Soalnya saya merasa ada yang kurang kalau tidak terlibat hubungan panjang dengan salah satu mobil yang Indonesia banget. Plus, keluarga besar saya tumbuh dan berkembang bersama generasi-generasi Toyota Kijang. Tanpa sadar, kalian juga mungkin tumbuh bersama Kijang.

 

Sejarah dari munculnya Kijang sebenarnya bukan dari Indonesia tetapi dari Filipina. Pada tahun 1972, atau 26 tahun sebelum saya lahir, Ferdinand Marcos membuahkan kebijakan untuk memodernisasi kendaraan utilitas sederhana (BUV, Basic Utility Vehicle) di Filipina. As you might know, Filipina adalah negara yang terkenal akan mobil utilitas sederhana bernama “Jeepney” dan saat itu sudah mulai…menua. Volkswagen menjadi responder pertama dengan merilis Country Buggy ‘versi naturalisasi’ bernama Sakbayan.  

 

Toyota, pengusung mobil rakyat sejagat Corolla, tidak mau ketinggalan. Pabrikan tersebut mengembangkan mobil utilitas sederhana sendiri dengan mengambil mesin 3K dari Corolla dan akan menamainya “Tamaraw”. Prototipe Tamaraw muncul di Filipina pada tahun 1975, berdekatan dengan momen mulainya kebijakan Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana Presiden Soeharto. Maka dari itu, Toyota juga memperkenalkan si Prototipe di Indonesia pada ajang Jakarta Fair 1975 dan berencana menamainya ‘Kerjasama Indonesia-Jepang’, atau kependekannya Kijang. 

 

Kijang generasi pertama, atau yang disebut Kijang Buaya, hanya hadir dengan bodi pick-up sederhana dan mesin 3K 1200cc dari Corolla. Mulai dijual pada tahun 1977 dengan harga Rp 1,500,000, Toyota dapat dikatakan muncul belakangan ketimbang mobil KBNS lain seperti GM Morina (1976) dan VW Mitra (1974). Akan tetapi, Kijang laris manis sementara Mitra dan Morina tidak bertahan lama. Kesuksesan tersebut membuat Toyota Astra Motor melanjutkan generasi Kijang pada tahun 1981 dengan Kijang KF20 atau Kijang Doyok.

 

Kijang Doyok sejatinya adalah penyempurnaan lebih mutakhir dari Kijang Buaya. Meski keduanya keluar dari pabrik berbentuk pick up sederhana, Kijang Doyok sudah mengusung jendela berkaca, engsel pintu yang lebih modern, dan desain bodi yang lebih kelimis. Mesinnya juga lebih besar, kini hadir dengan mesin 4K 1290cc dari Corolla DX dan 5K 1500cc setelah facelift 1984.

 

Ada banyak sekali identitas Kijang Doyok. Pada tahun 1980an, Toyota Astra Motor kepincut mengembangkan versi minibus dan…apapun jadinya dari pick up Doyok. Versi minibus Doyok dikerjakan oleh karoseri Family, Commando, Nasmoco, Langgeng Putra, dan banyak. Cuma, ada satu yang masih melekat di saya yaitu Kijang Turangga hasil karoseri Tugasanda. Kijang ini berubah total dari versi pickupnya dan mengusung desain selayaknya SUV seperti Daihatsu Taft. Almarhum kakek saya pernah memilikinya berwarna merah, berstrip, lengkap dengan kaca film ungu dan jok kain ‘bentol-bentol.’

 

Suksesor dari Kijang Doyok, Kijang KF40/KF50 atau Kijang Super/Grand, juga memiliki banyak identitas. Hanya saja mulai dari Kijang Super/Grand inilah Toyota Astra Motor tidak memprioritaskan desain pick-up dan mulai menjual minibus hasil kerjasama dengan 3 rekanan karoseri rujukan yaitu Nusa Cendana Harum, Nasmoco, dan Superior. Pasca facelift 1992, Astra mulai membangun bodi sendiri bernama Toyota Original Body. 

 

Semasa saya kecil, saya selalu bepergian bersama keluarga dengan beberapa Kijang era ini. Nenek saya dulu memiliki Kijang Super G bermesin 5K yang sempat menjadi andalan kakek saya untuk menjemput saya dari sekolah. Ayah saya juga mobil dinasnya sempat Kijang Grand Extra 1.8 yang sudah mengusung mesin 7K dan sempat juga Kijang Grand tiga pintu dengan jok bangku taman depan belakang.

 

Puncak dari memori masa kecil saya dengan Kijang berakhir di Kijang F70/F80 atau Kijang Kapsul. Selesai sudah era karoseri Kijang, kecuali untuk ‘mini Cruiser’ Rover Ace, karena bodi sudah digarap oleh Astra sendiri. Kijang Kapsul dibedakan menjadi dua, sasis panjang (L) dan sasis pendek (S). Mesinnya kini lebih beragam mulai dari 1800cc 7K-E, 2000cc 1RZ-E, dan diesel 2400cc 2L. Saya semasa kecil juga pernah merasakan betapa basicnya Kijang LX bertransmisi 4 percepatan manual dan juga betapa mewahnya Kijang LGX 2.0 EFI. Oh iya, trim tertinggi Kijang Kapsul adalah Kijang Krista dan Kijang Rangga yang berbentuk seperti SUV.

 

Cerita Kijang yang asli selesai pada tahun 2004 ketika Toyota dan Daihatsu meneruskan legasi mobil keluarga ini dengan Avanza dan Xenia. Nameplate Kijang kembali saat Toyota merilis Innova yang satu platform IMV dengan Hilux dan Fortuner. Sayang sudah beda kasta sih…tadinya mobil rakyat menjadi mobil bos dan pejabat. Ketika saya menulis ini, saya menjadi tidak yakin apakah anak Indonesia penerus bangsa nantinya akan terus ingat dengan Kijang yang asli…. Semoga saja masih.

From AutoVerso Media Instagram

Editorial: The AutoVerso Team

Sources: mobilmotorlama.com, awansan.com, bus-truck.id

Office:

Jl. Kedoya Raya No. 3, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta Indonesia 11520

Phone : +62 817 007 3836

Email : contact.autoverso@gmail.com